Lembata, Pojoknesia.com - Lagi-lagi kasus bunuh diri terjadi kembali di kabupaten Lembata. Kali ini peristiwa naas menimpa YL (19), Seorang pelajar Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.
Atas kejadian tragis ini pihak kepolisian Resort Kabupaten Lembata Kepada media melalui Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Seksi Humas Polres Lembata, Iptu Ona Pattipeilohy, didampingi Kanit Pidum, Ipda Willy Lamapaha menerangkan, bahwa almarhum YL ini adalah siswa salah satu Sekolah Menengah Atas di Lewoleba Kabupaten Lembata Nusa Tenggara Timur, ditemukan ayahnya tergantung pada sebatang pohon yang tingginya sekitar, 50 meter dari dekat kosnya, di Lusikawak, Kelurahan Lewoleba. YL ditemukan sekitar pukul 16.00 wita pada Selasa petang (3/3/26).
Penemuan ini menghebohkan warga sekitar yang langsung datang membantu GD ayah YL untuk mengevakuasi korban. Saat itu Tubuh korban langsung dilarikan Ayah kandung YL ke kamar kosnya dan selanjutnya dibawah ke rumah adik kandung ayahnya, di Longser, Kelurahan Lewoleba Barat. Dan sekitar pukul 18.00 wita, jasad korban dibawa ke Rumah Sakit Damian Lewoleba untuk memastikan kondisi korban.
Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Seksi Humas Polres Lembata, Iptu Ona Pattipeilohy menerangkan bahwa, penyidik saat turun ke TKP di tempat Kost, korban ditemukan sudah tak bernyawa.
Ia menjelaskan Terkait kondisi korban, saat tim tiba di TKP, dari ciri fisik diketahui memang sudah tak bernyawa. Begitu juga dijelaskan tim medis rumah sakit yang memeriksa kondisi korban,” papar Iptu Ona.
Lebih lanjut Penyidik Polres Lembata menyampaikan bahwa saat ini pihaknya masih melakukan pendalaman dan belum bisa menyimpulkan motif kematian korban hingga mengakhiri hidupnya, lantaran saat penyidik tiba di lokasi, tubuh korban sudah diturunkan dan simpul tali sudah dilepas.
“Waktu penyidik ke TKP, tubuh korban sudah diturunkan dan dibawa ke kos. Disana penyidik menemukan barang bukti seutas tali kurang lebih 2,54 cm dengan Bekas jeratan kurang lebih 33 cm. Korban bunuh diri di pohon Asam lokasi Lusikawak Kelurahan Lewoleba Kecamatan Nubatukan.
Dari beberapa barang bukti yang diperoleh terdapat bekas jeratan tali yang simpulnya sudah dilepas.
Setelah korban dibawa di kost selang 1 jam keluarga langsung membawa korban ke rumah adik dari bapanya,” terang Iptu Ona.
Untuk sementara pihak kepolisian telah memeriksa 5 saksi, antara lain dua teman sekolah korban, satu masyarakat di sekitar TKP, pemilik kos dan PG, adik kandung ayah korban.
Dari keterangan para saksi ini, polisi belum bisa menyimpulkan motif korban mengakhiri hidupnya.
Bahkan tidak ada foto saat tubuh korban tergantung karena saat didatangi warga, tubuh korban sudah diturunkan oleh ayah kandung korban, sebagai orang yang pertama menemukan korban.
“Kami mohon kesabaran masyarakat soal kejelasan kasus ini, termasuk motifnya karena harus dengar dari ayah korban. Kita bersabar dan hormati keluarga karena masih dalam kedukaan,” pungkas Iptu Ona.
Lebih lanjut lagi Iptu Ona mengatakan, Kasus kematian yang menimpa YL ini, jadi yang pertama di tahun 2026. Untuk itu pihak polisi masih butuh banyak informasi dan petunjuk.
“Kami harapkan dukungan masyarakat dan rekan jurnalis, jika ada informasi terkait kasus ini, bisa membantu kami di kepolisian,” harap Iptu Ona.
Sejak berita ini diturunkan informasi sementara yang sudah didapatkan pihak kepolisian dari sumber TG bapa tenga korban menerangkan bahwa korban ini sering dimarahi ayahnya gegara sering membonceng perempuan. Sehingga tidak fokus sekolah. Korban sering bonceng perempuan sehingga bapaknya mengambil sikap untuk pindahkan korban ke sekolah lain.
Sebelum meninggal korban sempat pamit temanya pergi sekolah dengan menggunakan kaos putih bersama kendaraanya motor beat. Sekitar pukul 16- 50 petang korban ditemui ayahnya sudah dalam keadaan meninggal dan hasil visum sementara tidak ada tanda-tanda kekerasan. ***