Dari pojok nusantara untuk Indonesia

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


Sedimentasi dan Sampah Picu Banjir Lewoleba, Solusi Jangka Panjang Mendesak

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata mencatat sedikitnya 107 rumah terdampak, dua fasilitas umum rusak, serta satu korban jiwa di Desa Atulaleng, Kecamatan Buyasuri.

Admin
Kamis, 30 April 2026 | 10:54:26 WIB
Dok. Prokompim Setda Lembata

Lembata, Pojoknesia.com — Banjir yang merendam hampir separuh wilayah Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa (28/4/2026), tidak hanya dipicu curah hujan tinggi, tetapi juga memperlihatkan persoalan lama yang belum tertangani: sedimentasi parah dan penumpukan sampah di saluran air. 

Hujan deras selama sekitar dua jam cukup untuk melumpuhkan sistem drainase kota, memaksa air meluap dari kali dan selokan hingga menggenangi rumah-rumah warga.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata mencatat sedikitnya 107 rumah terdampak, dua fasilitas umum rusak, serta satu korban jiwa di Desa Atulaleng, Kecamatan Buyasuri.

Baca Juga; https://pojoknesia.com/jambore-sekami-2026-lembata-jadi-barometer-benih-misioner

Wilayah dengan dampak terparah berada di Kelurahan Lewoleba Timur, Selandoro, dan Lewoleba Tengah, disusul sejumlah titik di Lewoleba Barat dan Lewoleba Selatan.

Pemerintah daerah menetapkan status tanggap bencana menyusul luasnya dampak yang ditimbulkan.

Hasil peninjauan pemerintah sehari setelah kejadian menunjukkan bahwa kapasitas saluran air di dalam kota telah jauh berkurang. 

Banyak drainase tersumbat sampah rumah tangga, sementara sedimentasi menumpuk di bantaran kali dan kanal utama. 

Baca Juga; https://pojoknesia.com/hujan-tak-halangi-kekhidmatan-penutupan-jambore-remaja-misioner-di-lembata

Kondisi ini menyebabkan air hujan yang seharusnya mengalir ke laut justru tertahan dan meluap ke permukiman warga.

Penelusuran hingga ke wilayah hulu mengungkap persoalan yang lebih kompleks. 

Di kawasan cekdam Komak, yang berbatasan dengan Desa Lite Ulumado dan Nuba Mado, ditemukan pendangkalan serius di daerah aliran air, disertai pertumbuhan vegetasi liar yang mempersempit jalur aliran. 

Selain itu, terdapat jalur air terbuka tanpa pengendalian yang diduga memperbesar debit air yang masuk ke pusat kota saat hujan deras.

Baca Juga; https://pojoknesia.com/resmi-beroperasi-labkesmas-di-lembata-dihadapkan-dengan-virus-dan-bakteri

Di sisi lain, kondisi di hilir tidak kalah memprihatinkan. Di bantaran Kali Muko Ona, Kelurahan Lewoleba Timur, aliran air tersendat akibat desain drainase yang berbelok tajam tanpa jalur distribusi yang memadai. 

Sedimentasi yang menutup saluran membuat air kiriman tidak tertampung dan akhirnya meluap ke rumah warga.

Begitupun sebaliknya kondisi yang hampir serupa terjadi di kanal utama dalam kota yang merupakan jalur kiriman air dari Cekdam Komak dan sekitarnya. 

Banyaknya sampah rumah tangga di bantaran kali dan di beberapa titik kanal terjadi sedimentasi serta beberapa bangunan yang dibangun di tepian kanal sehingga memaksa air over capasity yang berujung pada luapan banjir yang menerjang rumah warga kota baru dan sekitarnya.

Baca Juga; https://pojoknesia.com/pemkab-lembata-integrasikan-fungsi-keuangan-demi-efisiensi-dan-pad

Sejumlah rumah masih dipenuhi lumpur, sementara warga berupaya membersihkan sisa banjir dengan peralatan seadanya.

Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq bersama Wakil Bupati Muhamad Nasir telah memerintahkan pengerukan sedimentasi di titik-titik kritis serta pembersihan menyeluruh saluran drainase. 

Pemerintah juga mengerahkan alat berat di sejumlah lokasi untuk membuka kembali jalur air yang tersumbat. 

Namun, langkah ini dinilai sebagai solusi jangka pendek yang belum menyentuh akar persoalan.

Baca Juga; https://pojoknesia.com/harga-dijamin-skema-baru-selamatkan-petani-jagung-di-lembata

Evaluasi internal pemerintah daerah menyoroti perlunya penanganan jangka panjang yang lebih sistematis, mulai dari normalisasi sungai, rehabilitasi cekdam, hingga penataan ulang sistem drainase perkotaan.

Selain itu, pengawasan terhadap kawasan bantaran sungai dan peningkatan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah menjadi bagian penting yang tidak terpisahkan.

Sejumlah warga berharap pemerintah tidak berhenti pada penanganan darurat. 

Mereka menilai banjir yang berulang setiap musim hujan merupakan tanda bahwa persoalan tata kelola lingkungan di Lewoleba belum ditangani secara serius. 

Baca Juga; https://pojoknesia.com/lapas-lembata-gelar-apel-ikrar-bebas-narkoba-dan-handphone-ilegal

Tanpa perbaikan menyeluruh dari hulu hingga hilir, banjir serupa dikhawatirkan akan terus terjadi dengan dampak yang semakin besar.

Banjir kali ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah dan masyarakat bahwa persoalan lingkungan perkotaan membutuhkan penanganan lintas sektor dan berkelanjutan. 

Di tengah ancaman cuaca ekstrem yang kian sering terjadi, pembenahan sistem drainase dan pengelolaan daerah aliran sungai bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. (Prokompim/ Kominfo Lembata) ***


Bagikan

Berita Terkini

Bupati Pastikan TPP ASN Lembata Dibayar 12 Bulan

Melalui kebijakan tersebut, Bupati Kanis Tuaq berharap seluruh ASN semakin termotivasi untuk meningkatkan kinerja, terut

| Senin, 12 Oktober 2026
Bupati Sampaikan Duka Mendalam, Perintahkan Penanganan Cepat Bagi Korban

Ia telah memerintahkan Sekretaris Daerah untuk mengerahkan seluruh jajaran terkait guna menangani peristiwa ini secara

| Selasa, 06 Oktober 2026
HUT ke-27 Lembata, Pemkab Matangkan Beragam Program Strategis

Persiapan tidak hanya diarahkan pada seremoni peringatan, tetapi juga dikonsolidasikan dengan sejumlah kegiatan pembangu

| Senin, 05 Oktober 2026
Kolaborasi Pemkab Lembata dan Yayasan Sosial Ibu Anfrida Perkuat Upaya Eliminasi Kusta 2030

Kedua pihak juga menargetkan percepatan eliminasi kusta di Lembata pada 2030, sekaligus mendorong kesetaraan, inklusi so

| Senin, 28 September 2026
Gangguan Kabel Laut Lewoleba–BU2, Telekomunikasi di Lembata Terdampak

Berdasarkan hasil pengukuran, gangguan terindikasi disebabkan oleh putusnya kabel pada segmen laut ruas Lewoleba–BU2.

| Kamis, 01 Oktober 2026
Pembangunan PLTP Atadei 10 MW Mulai Dipercepat, Operasi Ditargetkan 2030

Perwakilan Bagian Perizinan PT PLN UIP Nusra Wilayah Mataram, Kristanto, menjelaskan proyek ini merupakan program strate

| Rabu, 30 September 2026
Terima Aspirasi FOKAL, Pemkab Lembata Kaji Delapan Tuntutan

Dalam pertemuan tersebut, FOKAL menyampaikan delapan tuntutan yang sebagiannya terkait klarifikasi penggunaan dana insen

| Selasa, 29 September 2026
Bupati Lembata Kaji TPP bagi 255 PPPK Paruh Waktu

Kepastian itu disampaikan Bupati saat bertemu dengan para PPPK Paruh Waktu di Ruang Rapat Bupati Lembata, Kamis, 24 Sep

| Sabtu, 26 September 2026
Groundbreaking KNMP Lembata Dimulai, Enam Lokasi Disiapkan

Program tersebut menjadi bagian dari agenda KKP untuk membangun kawasan pesisir yang lebih produktif melalui penguatan s

| Jumat, 25 September 2026
Revitalisasi Sekolah di Lembata Diguyur Rp20 Miliar, Dinas Minta Laporan Fisik

Sebanyak 46 gedung sedang dikerjakan dan ditargetkan rampung dalam satu hingga dua bulan ke depan, sedangkan 16 lainnya

| Jumat, 18 September 2026
Indeks Berita

Poling

Pemerintah berencana mengkombinasikan iuran BPJS Kesehatan dengan asuransi swasta bagi keluarga mampu. Apakah Anda setuju kelas khusus BPJS Kesehatan