Dari pojok nusantara untuk Indonesia

Logo Banggainesia
Local Edition | | Todays News


Banyak Catatan Kritis DPRD Lembata di Musrenbang RKPD 2027

Ketua DPRD Syafrudin Sira, dalam penyampaian pokok-pokok pikiran lembaganya, tidak hanya memberi dukungan politik terhadap visi pemerintah daerah, tetapi juga menggarisbawahi sejumlah persoalan mendasar yang selama ini dinilai belum tertangani secara tuntas.

Admin
Rabu, 18 Maret 2026 | 10:34:23 WIB
Dok. Prokompim Setda Lembata

Lembata, Pojoknesia.com — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Lembata dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD 2027 tak sekadar menjadi ruang seremonial tahunan, melainkan menyuarakan berbagai persoalan di masyarakat.

Di balik forum yang dibuka oleh Bupati P. Kanisius Tuaq di Aula Anton Enga Tifaona, Selasa (17/3/26), terselip sejumlah catatan kritis legislatif yang secara terbuka menguji arah kebijakan pembangunan daerah di tengah keterbatasan fiskal yang kian menekan.

Ketua DPRD Syafrudin Sira, dalam penyampaian pokok-pokok pikiran lembaganya, tidak hanya memberi dukungan politik terhadap visi pemerintah daerah, tetapi juga menggarisbawahi sejumlah persoalan mendasar yang selama ini dinilai belum tertangani secara tuntas.

Baca Juga; https://pojoknesia.com/pad-lembata-melambat-di-triwulan-i-bupati-kanis-percepat-kinerja-dan-optimalisasi

Sorotan pertama mengarah pada paradoks pembangunan: di tengah berbagai program prioritas yang dirancang, angka kemiskinan di Lembata masih berada pada level tinggi, yakni 23,27 persen atau sekitar 36 ribu jiwa. 

Data ini, yang bersumber dari Badan Pusat Statistik, menjadi indikator bahwa pertumbuhan ekonomi yang tercatat 4,47 persen belum sepenuhnya berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara merata.

'Angka bukanlah tujuan akhir. Kesejahteraan nyata masyarakat adalah ukuran keberhasilan,' demikian garis tegas yang disampaikan dalam forum tersebut.

DPRD juga menyoroti lemahnya kapasitas fiskal daerah. Ketergantungan terhadap dana transfer pusat masih dominan, sementara Pendapatan Asli Daerah (PAD) dinilai stagnan. 

Baca Juga; https://pojoknesia.com/di-forum-legio-maria-bupati-lembata-singgung-fiskal-daerah-dan-minta-warga-tak-bergantung-penuh-pada-bantuan-pemerintah

Dalam situasi ini, DPRD mengingatkan agar setiap desain program tidak melampaui kemampuan keuangan daerah, sekaligus mendorong pemerintah membuka ruang investasi yang sehat tanpa mengabaikan regulasi dan kepentingan publik.

Di sektor infrastruktur, kritik legislatif mengemuka lebih tajam. Dari total 633 kilometer jalan kabupaten, hampir separuhnya berada dalam kondisi rusak berat. 

DPRD secara khusus menyinggung wilayah seperti Ile Ape dan Ile Ape Timur yang dinilai mengalami stagnasi pembangunan, bahkan terkesan terabaikan dengan dalih status zona rawan bencana.

Kondisi ini memperlihatkan problem klasik, pembangunan yang tidak diikuti dengan pemeliharaan berkelanjutan. Akibatnya, investasi infrastruktur yang telah dilakukan justru kehilangan daya guna dalam waktu singkat.

Baca Juga; https://pojoknesia.com/antisipasi-harga-pangan-pemerintah-lembata-gelontorkan-75-ton-pangan-murah

Persoalan akses air bersih juga menjadi perhatian serius. DPRD menilai pemenuhan kebutuhan dasar ini masih jauh dari kata layak, terutama di wilayah perkotaan Lewoleba dan sejumlah kecamatan yang belum terlayani optimal. Hal ini mencerminkan lemahnya prioritas terhadap layanan dasar yang seharusnya menjadi fondasi pembangunan.

Di sektor pertanian dan perikanan, DPRD mengingatkan agar program unggulan Nelayan Tani Ternak (NTT) tidak berhenti pada distribusi bantuan semata. Tanpa pendampingan yang konsisten dan pengawasan yang ketat, program tersebut berpotensi hanya menguntungkan kelompok tertentu tanpa memberi dampak luas bagi masyarakat.

Kritik juga diarahkan pada kualitas sumber daya manusia, baik di kalangan masyarakat maupun aparatur sipil negara. Rendahnya kualitas layanan kesehatan, keterbatasan tenaga dokter, hingga masih tingginya risiko kematian ibu dan bayi menjadi indikator bahwa sektor kesehatan belum menjadi prioritas yang efektif. 

Di bidang pendidikan, DPRD menyoroti perlunya perhatian lebih terhadap sekolah swasta yang selama ini dinilai terpinggirkan dalam kebijakan anggaran. 

Baca Juga; https://pojoknesia.com/pemerintah-lembata-bahas-revitalisasi-depot-bbm-bersama-pt-grayson-alfarezy-sapujagad

Tak kalah penting, DPRD menyinggung persoalan tata kelola pemerintahan yang belum sepenuhnya tuntas. 

Setelah 26 tahun otonomi daerah, masih terdapat organisasi perangkat daerah yang belum memiliki kantor permanen. Kondisi ini dinilai bukan sekadar soal fasilitas, tetapi mencerminkan lemahnya perencanaan jangka panjang dalam penyediaan infrastruktur pemerintahan.

Di tengah tekanan kebijakan efisiensi belanja pegawai hingga 30 persen dari APBD, DPRD mengingatkan potensi dampak sosial yang bisa muncul, termasuk meningkatnya pengangguran jika tidak dikelola dengan hati-hati. 

Koordinasi dengan pemerintah pusat dinilai menjadi kunci agar kebijakan tersebut tidak menimbulkan gejolak baru.

Baca Juga; https://pojoknesia.com/resmi-kantor-pelni-lembata-bupati-kanis-menjadi-langkah-strategis-penggerak-ekonomi-masyarakat

Musrenbang RKPD 2027 yang difasilitasi oleh Bappelitbangda Kabupaten Lembata ini pada akhirnya memperlihatkan satu hal, jurang antara perencanaan dan realisasi pembangunan masih menjadi persoalan utama.

Catatan DPRD bukan sekadar formalitas politik, melainkan cerminan akumulasi persoalan struktural yang menuntut pembenahan serius. 

Tanpa keberanian untuk mengeksekusi rekomendasi tersebut secara konsisten, arah pembangunan Lembata berisiko kembali terjebak dalam siklus perencanaan yang ambisius namun minim dampak nyata. ***


Bagikan

Berita Terkini

Pemkab Lembata Tepat Waktu Sampaikan KUA-PPAS 2027, Tidak Masuk Daftar Peringatan Kemenkeu

Sebanyak 363 pemerintah daerah tercantum dalam daftar peringatan tersebut, yang terdiri atas pemerintah kabupaten, kota

| Rabu, 05 Agustus 2026
Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Lembata Tingkatkan Layanan Publik Melalui Standar Pelayanan Digital

Penetapan standar pelayanan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk menghadirkan pelayanan yang lebih

| Minggu, 19 Juli 2026
Pendapatan PKB dan Opsen PKB 2026 Naik Signifikan, Lembata Masuk Dua Besar di NTT

Capaian tersebut menjadi salah satu indikator positif kinerja fiskal daerah sekaligus menunjukkan semakin baiknya kepatu

| Selasa, 30 Juni 2026
Kinerja Gemilang Tiga OPD Dongkrak PAD Lembata Hingga Rp17 Miliar

Di sisi lain, secara agregat total pendapatan mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu.

| Jumat, 03 Juli 2026
Keunikan Sarung Adat Ile Ape Proses 3 Tahun Hargai Rp25 Juta, Memukau Pengunjung Festival Lamaholot

Nilai tinggi dari kain tenun ini bukan semata-mata karena harganya, melainkan karena proses pembuatan yang sangat panjan

| Kamis, 02 Juli 2026
Bupati dan Wakil Bupati Lembata Hadiri Upacara HUT Ke-80 Bhayangkara

Mengusung tema “80 Tahun Mengabdi, Polri untuk Masyarakat”, Presiden menegaskan bahwa seluruh pengabdian Polri harus

| Rabu, 01 Juli 2026
Aksi Nyata Bupati Lembata: Ikut Angkut Batu Bangun Fondasi TK St. Mikhael Baobolak

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Bantuan Pemerintah Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2026 pada Revitalisa

| Selasa, 30 Juni 2026
Operasi Besar Disiapkan Bupati-Wabup Lembata, Dugaan Bisnis Ilegal BBM Subsidi Jadi Target

Padahal kuota BBM subsidi yang disalurkan ke Lembata disebut sudah sesuai pengajuan daerah. Namun antrean panjang dan ke

| Senin, 29 Juni 2026
Indeks Berita

Poling

Pemerintah berencana mengkombinasikan iuran BPJS Kesehatan dengan asuransi swasta bagi keluarga mampu. Apakah Anda setuju kelas khusus BPJS Kesehatan